MENGUATKAN MENTAL DENGAN TAZKIATUN NUFUS (MELATIH JIWA)

A. PENGERTIAN MENTAL   

      Istilah mental diambil dari bahasa Yunani yang berarti psikis, jiwa atau kejiwaaan. Dan menurut Istilah, mental ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan perasaan, prilaku, pikiran, emosi dan kepercayaan seseorang. Singkatnya, mental ialah suatu kondisi seorang yang berhubungan dengan perasaan, emosi, pikiran dan kepercayaan yang membentuk cara bertindak dan merespon akan sesuatu. 

     Seperti contoh: orang A ketika ada masalah dengan temannya dia  sering berprilaku agresif ke teman-teman disekolahnya dengan memukuli mereka dan ketika diselidiki, ternyata si A ini berada dalam lingkungan yang kacau, dimana dia sering bermain dengan preman, orang tua yang toxic dan lain sebagainya yang menjadi penyebab dia berprilaku agresif. 

    Dalam contoh ini ada subjek orang A yang memiliki mental (kondisi yang berhubungan dengan perasaan, emosi, fikiran dan kepercayaan) agresif, dimana karena perasaannya, emosinya, pikirannya dan kepercayaannya terpengaruh lingkungannya yang tidak baik, maka ketika terjadi masalah dengan teman disekolahnya dia bertindak dan merespon dengan agresif terhadap masalah tersebut, itulah mental.

B. PENGERTIAN TAZKIYATUN NUFUS

    Tazkiyah memiliki arti at-Thahir dan an-Numuw yaitu menyucikan atau membersihkan dan tumbuh, dan an-Nufus bentuk jamak dari an-Nafs yang memiliki arti jiwa, sedangkan menurut istilah tazkiyatun nufus ialah menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat (akhlaq) yang buruk/tercela seperti: kufur, nifaq, riya’, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya dan menghiasi jiwa yang telah kita sucikan tersebut dengan sifat-sifat (akhlaq) yang baik dan terpuji seperti: ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya.

C. MENGUATKAN MENTAL DENGAN TAZKIATUN NUFUS

    Mental (keadaan/kondisi kejiwaan) seseorang bisa saja terganggu dan mengalami masalah. Masalah atau gangguan mental ini bisa terjadi kepada siapapun dengan dilatar belakangi oleh faktor apapun, baik karena masalah ekonomi, sosial, pekerjaan, lingkungan dan lain sebagainya.

  Sejarah sudah mencatat bagaimana orang-orang mengatasi gangguan mental ini, diantaranya; dimulai dari kepercayaan animisme dan naturalisme dimana gangguan mental dikaitkan dengan dewa yang marah ataupun pengaruh alam, selanjutnya memasuki zaman moderen dimana ganguan mental ini diselesaikan secara ilmiah dengan ilmu yang berkembang sampai saat ini.

    Tapi lebih dari itu, mental atau jiwa itu bisa dilatih dan ditumbuh kembangkan menjadi lebih baik dengan jalan apa yang disebut dengan tazkiyatun nufus. Tazkiyatun nufus sendiri merupakan istilah dalam islam yang sudah sejak dulu ada, akan tetapi baru diperkenalkan secara sistematis oleh ulama Imam Al-Ghazali lewat karyanya Ihya Ulumuddin.

    Kerena hal ini merupakan khazanah keilmuan Islam tentu tazkiyatun nufus ini tidak lepas dari ajaran islam, karena seseorang yang melakukan tazkiatun nufus harus memiliki prinsip, diantaranya sebagai berikut:

  1. Taubat Nasuha (Pertobatan): seorang yang sedang melakukan tazkiyatun nufus harus jujur pada diri sendiri terhadap kesalahan atau dosa yang ia miliki dan ber'azam untuk taubatan nasuha (tobat sungguh-sungguh),  
  2. Ikhlas: seorang yang melakukan tazkiyatun nufus setelah melakukan pertobatan dan setiap hari melakukan muhasabah, maka diharapkan untuk memiliki hati yang ikhlas, yaitu hati yang hanya mengharapkan Allah Subhanahu wa Ta'la sahaja dalam ibadah dan amal shalehnya.
  3. Mengendalikan Nafsu:  setelah berusaha berlatih dengan ilmu dan amal dalam keihklasan hati, maka selanjutnya berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu. Dimana hawa nafsu ini harus diarahkan kepada keta'atan kepada Allah Subhanahu wa Ta'la menjadikan seseorang yang tidak tunduk menjadi budak hawa nafsu tapi hawa nafsunya tunduk pada keta'atan kepada Allah Subhanahu wa Ta'la. 
  4. Sabar dan Syukur: ini murupakan dua sifat yang sangat diperlukan oleh orang yang melakukan tazkiyatun nufus dalam menghadapi bencana dan nikmat selama hidup didunia. diharapkan dengan melatih kedua sifat ini maka ia akan memiliki hati yang  qana'ah yaitu hati yang ridha terhadap takdir Allah Subhanahu wa Ta'la yang menimpanya.
  5. Zikir dan Doa: mengingat Allah dalam segala aspek kehidupan, menjadikan hatinya sakinah dan hidupnya tidak jauh dari Allah  baik itu dengan amalan dzikir seperti subhanallah wal hamdulillah wallahu Akbar atau dzikir dalam bentuk perbuatan seperti membantu orang lain, shadaqah dan lain sebagainya. Dan do'a yaitu hanya mengharapkan Allah sahaja dalam kehidupannya.
  6. Menjauhi Dosa dan Maksiat: dengan melatih diri untuk menghindari dosa, maksiat, dan segala bentuk perbuatan yang dapat merusak hati serta hubungan dengan Allah. Ini juga mencakup menjauhi kebohongan, iri hati, kedengkian, dan sifat-sifat buruk lainnya.
  7. Meningkatkan Akhlak: dengan melatih dan mengarah jiwa pada pembentukan akhlak mulia, seperti kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, dan kebaikan terhadap sesama. dan berusaha  untuk mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari secara kaffah (Paripurna/Mnyeluruh).
  8. Tawakkal (Berserah Diri pada Allah): Setelah berusaha melakukan yang terbaik dengan berlatih berusaha semampu mungkin menambah ilmu dan beramal dengan ilmu dalam menghiasi diri dengan akhlaq yang baik dan menjauhi akhlaq yang buruk dan semakin dekat kepada Allah  Subhanahu wa Ta'ala, maka selanjutnya ia harus menghiasi dirinya dengan sifat tawakal, dimana ketawakalan ini diperlukan untuk menghadapi dan menyikapi bagaimana dunia ini berjalan, dan menyikapi segala qadha dan qadhar Allah. karena syarat dari tawakal ialah usaha atau beramal dengan mengerahkan semuanya, umpamanya seseorang yang ingin kaya, maka bisa disebut tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap harapannya ia haruslah berusaha semampu mungkin mengerahkan usaha dan ilmunya barulah disebut tawakal tapi kalau sebaliknya tidak disebut tawakal.
    Dari paparan diatas mengenai pengertian mental dan mengenai pengertian dan gambaran tazkiyatun nufus, kita bisa melihat dimana dengan tazkiyatun nufus seseorang bisa menguatkan mentalnya, sebuah mental (kondisi jiwa) yang kuat. Bisa diumpamakan dengan; bagaimanakah pendapatmu tentang orang yang mengatakan aku pintar karena aku belajar?, tentu kamu mendengar hal ini pasti menyebutnya dengan wajar dan masuk akal, begitupun kuatnya mental dengan jalan tazkiyatun nufus dengan latihan yang konsisten antara ilmu dan amal, berusaha untuk semakin dekat dengan Tuhan pencipta alam semesta yaitu Allah. Maka seperti halnya orang yang pintar karena belajar, tentu sama juga dengan orang yang kuat mentalnya (kondisi jiwanya) dengan jalan tazkiyatun nufus, karena orang yang melakukan tazkiyatun nufus (berlatih menguatkan mentalnya) pada akhirnya jiwanya akan terhubung dengan suatu eksistensi yang memiliki dan berkuasa atas segalanya, maka dengan mental dan jiwa yang seperti ini apa yang musti ditakuti. Dan janji Allah jelas dalam Alquran kepada orang-orang beriman Qs Ibrahim ayat 27;
  

يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱلْقَوْلِ ٱلثَّابِتِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلظَّٰلِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ

Artinya: "Allah akan menguatkan orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh baik di dunia maupun di akhirat dan Allah akan menyesatkan orang-orang dzalim dan Allah akan berbuat dengan apa yang dikehendakinya"

    Dalam tafsir al-Muyasar, al-Mukhtashar dan as-shaghi, yang dimaksud dengan "بِٱلْقَوْلِ ٱلثَّابِتِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ " adalah syahadat "Laailaaha Illallah Muhammad Rasulullah". Seseorang yang mengucapkan syahadat hidupnya tidak akan terlepas dari Tuhannya, ia harus mengamalkan syari'ah-Nya baik yang ada dalam Alquran maupun Hadis suka atau tidak untuk membuktikan kesungguhan syahadatnya, itu kenapa dalam Qs. Al-Baqarah ayat 155, Qs. Al-Ankabut ayat 2, Qs. Al-Anbiya ayat 35 dijelaskan seorang yang beriman pasti akan diuji oleh Allah di dunia. Dan tentu saja seperti halnya seseorang yang belajar untuk ujian hari besok, maka tentu untuk menghadapi ujian-ujian yang akan datang di dunia ini sepanjang kehidupan sampai kematian seseorang perlu berlatih dan wasilah (jalan) untuk mengatasi semua ini ialah dengan tazkiyatun nufus.



   


                        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu yang membosankan; Perjalanan kehidupan

Biografi Singkat Imam al-Ghazali